contoh proposal

Pengaruh Tradisi Kupatan(Hari Raya Ketupat) terhadap sikap keagamaan Masyarakat Dukuh Klumosari Rt 04/05

Guna memenuhi tugas penelitian sosial budaya keagamaan

Disusun oleh:
M Yusril Anwar Al Jafary
NIM: G000070035

JURUSAN TARBIYAH
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2008

Judul

Pengaruh Tradisi Kupatan(Hari Raya Ketupat) terhadap sikap keagamaan Masyarakat Dukuh Klumosari Rt 04/05

1. Latar Belakang Masalah
Dalam masyarakat Indonesia banyak kita jumpai berbagai macam tradisi, adat istiadat, budaya, seperti yang bersifat keagamaan. Di Indonesia sendiri banyak sekali tradisi, adat istadat, maupun budaya peninggalan-peninggalan dari agama hindu dan budha, yang saat itu dimasa awal penyebaran agama islam, muncul sekelompok orang yang banyak dijuluki dengan sebutan “wali songo”. Mereka melihat yang telah berkembang di Indonesia saat itu, dan sulit untuk mengubahnya. Dengan kecedasan dan juga pemehaman lapangan yang mereka miliki, akhirnya mereka “wali songo” menggunakan metode akulturasi budaya dengan tidak menghapus budaya-budaya yang telah ada, tetapi lebih dikembangkan dengan merubah semua isi yang ada dalam budaya tersebut dengan isi-isi yang bernuansa islami.
Perpaduan budaya tersebut ternyata cukup efektif, seperti yang dilakukan sunan kalijogo dengan wayangnya ataupun sunan bonang dengan gamelannya, para wali songo tersebut mampu menarik minat masyrakat Indonesia yang pada saat itu masih berstatus memeluk agama Hindu dan Budha. Setelah generasi para wali songo, muncul banyak adat istiadat, tradisi, maupun budaya baru yang bernuansa islami, seperti sekatenan di Solo maupun Jogja.
Tak dapat dipungkiri,negeri tempat kita tinggal ini memang kaya raya. Baik dari hasil alam maupun budayanya. Keanekaragaman budaya,adat istiadat dan tradisi tidak akan dijumpai dibelahan dunia manapun dan merupakan tradisi asli dari para leluhur atau nenek moyang yang senantiasa terjaga dan dilestarikan.
Dalam tradisi tertentu,pengaruh agama terkadang ikut ambil bagian dalam menambah ragam budaya atau kebiasaan masyarakat tertentu. Sayangnya,tradisi itu terkadang kita tidak mengetahui asal muasal dan kapan mulai berlangsungnya dan apa pula maknanya..
Kalau diperhatikan hampir setiap hari besar keagamaan di negeri ini mempunyai tradisi atau cara sendiri dalam menyambutnya. Baik upacara khusus dan tata caranya maupun sampai pada makanan. Salah satu contoh sangat jelas terlihat di Indonesia ini adalah menyambut hari Raya Idul Fitri.
Pada umumnya,dalam menyambut Idul Fitri,atau sering kita sebut dengan istilah Lebaran,memiliki tradisi yang secara turun-temurun atau mengakar dari setiap perayaan yang dilakukan dalam rangka menyambut hari kemenangan setelah satu bulan berpuasa.
Konon kabarnya istilah Lebaran ini dipopulerkan masyarakat betawi. Sedang masyarakat jawa ada yang menyebutnya Syawalan, bakda( bodo),atau riyoyo. Kalau syawalan diambil dari kata dasar syawal,nama bulan berdasarkan kalender Qomariyah (bulan). Sedangkan istilah bakda (bodo) dipakai karena memiliki arti ” selesai”.(mkipabawana.blogspot.com/2008/09/makna-kupatan-di-hari-fitri.html – 100k)
Meski berhadapan arus modernisasi, perayaan Bakda Kupat ini masih bisa dijumpai di beberapa tempat di Kota Semarang. Salah satunya, tradisi ini bisa dilihat di beberapa tempat di Kelurahan Kuningan, Semarang Utara. Warga berbagai usia berdatangan ke beberapa mushala dan masjid yang menggelar acara itu, sejak pagi pukul 06.00. Beduk dan kentongan terdengar bertalu-talu memanggil warga untuk segera mengikuti acara yang kini sudah mulai ditinggalkan.
Meski tak dikenal ”Kota Santri”, tradisi perayaan kupatan di Kuningan ini masih cukup ramai. Salah satunya, di Mushala Al-Ikhsan RW 1 kelurahan tersebut. Puluhan warga berdatangan membawa nampan berisikan beragam menu masakan ketupat dan lepet. Acara diisi dengan penyampaian uraian sejarah tradisi kupatan dan membaca tahlil bersama. Dilanjutkan bersalam-salaman untuk memperkuat silaturahmi dan ajang saling memaafkan. ”Tradisi Jawa itu kaya dengan simbol dan sanepa. Antara lain kupat yang berarti mengaku lepat, lontong berarti olo-olo dadi kotong (yang jelek menjadi hilang),” kata Sochib, takmir Musala Al-Ikhsan ini.
Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan jumlah warga yang mengikuti tradisi ini mulai menyusut. Salah satunya, hari itu sebagian masyarakat sudah mulai berangkat kerja atau sekolah. Dengan demikian, mereka tidak bisa mengikuti acara tersebut.
”Selain itu, kesadaran mengikuti kegiatan di masjid dan mushala juga berkurang,” katanya. (Harian Suara Merdeka, Jumat 11 November 2005)
Dari uraian diatas, kami mencoba membahas masalah budaya yang bernuansa islami yang sampai sekarang yang oleh sebagian masyarakat di Indonesia masih menjalankannya. Seperti yang ada pada uraian dan judul diatas tadi. Berkaitan dengan budaya, masyarakat Indonesia tidak akan bisa lepas dari yang namanya budaya, karena budaya di Indonesia sudah mengakar, bahkan menjadi satu kesatuan yang sulit untuk dipisahkan. Disinilah pentingnya sebuah pemahaman yang lebih mendalam berkaitan dengan budaya, sehingga kita tidak akan buru-buru dalam menghukumi jelek dalam arti tidak baik untuk dilakukan.
Karena permasalahan itulah kami mencoba mengangkat judul tersebut agar kita tidak langsung menjustufikasi suatu adapt istiadat, tradisi, maupun budaya sebagai sesuatu yang tidak baik, buruk an lain sebagainya, tanpa melalui data-data ilmiah. Oleh karena itu kita harus terus mengkaji baik itu dari segi legitimasi agama, tujuan adanya budaya tersebut dan manfaat dari budaya tersebut bagi masyarakat. Sehingga dalam memahami suatu budaya, kita tidak hanya melihat dari satu sisi saja, melainkan kita melihat dari berbagai sisi sudut pandang yang ada.
Suatu tradisi, adat istiadat, ataupun budaya bisa diterima dan berkembang dalam suatu masyarakat, karena tradisi, adat istiadat, maupun budaya tersebut dianggap baik, sehingga pantas untuk diterima dan dikembangkan dalam masyarakat tersebut. Dari situlah dengan yang memotivasi saya untuk mencoba meneliti dan mengurai benang merah yang terdapat dalam tradisi tersebut. Sehingga ini dapat memberikan sedikit tambahan wawasan, pengetahuan bagi kita bersama, khususnya penulis sendiri, amin.

2. Penegasan istilah
Tradisi
Tradisi adalah sesuatu yang sulit berubah, karena sudah menyatu dalam kehidupan masyarakat pendukungnya. Bahkan menurut Prof. Dr. Kasmiran Wuryo, tradisi masyarakat merupakan bentuk norma yang terbentuk dari bawah, sehingga sulit untuk diketahui sumber asalnya (Wurto:38).
Tradisi menurut Parsudi Suparlan PhD. Merupakan unsur social budaya yang mengakar dalam kehidupan masyarakat dan sulit berubah (Parsudi Suparlan, 1997:115).(Prof. Dr. H. Jalaluddin.2001:183-184)
Kupatan
Kupatan adalah sebuah istilah yang berasal dari kata “kupat” atau setelah di-Indonesiakan menjadi “ketupat”. Yaitu sebutan untuk makanan dari beras yang dimasukkan ke dalam kotak anyaman pelepah daun kelapa muda (janur). Makanan ini sangat mirip dengan “lontong” dimana cara membuatnya juga sama, yaitu beras dimasukkan ke dalam bungkus daun kemudian ditanak selama beberapa jam. Yang berbeda hanya bungkusnya dan juga tentu saja aromanya. Biasanya “lontong” dibungkus dengan pelepah daun pisang.
Asal-usul makanan ini konon pada jaman Wali Songo, sebagai pengganti lontong. Dibuat dari pelepah daun kelapa dan disajikan bersama masakan yang ber-santan karena diyakini pohon kelapa adalah tanaman yang sangat berguna, mulai dari batang, akar, daun, buahnya, airnya, serabutnya, batok-nya dlsb. bisa dimanfaatkan untuk kehidupan manusia. Sehingga, hendaknya manusia meniru dan memanfaatkan umurnya untuk berbuat manfaat kepada sesamanya. Selain itu bentuk ketupat yang persegi empat diyakini melambangkan rukun Islam yang ke empat yaitu berpuasa di bulan Ramadhan.
Konon kata “kupat” berasal dari ungkapan dalam bahasa Jawa yaitu “ngaku lepat” yang artinya “mengaku salah” atau “kulo lepat” yang artinya “saya (mengaku) salah”. Sehingga ada tradisi dimana orang saling berkirim hantaran ketupat dan kelengkapannya kepada tetangga sebagai simbol ungkapan pengakuan atas segala kesalahan dan permintaan maaf. Tradisi hantaran ini berbeda-beda di tiap daerah pelaksanaannya, ada yang di awal Ramadhan, sehari sebelum lebaran dan bertepatan pada hari raya setelah sholat Ied. (www.pataka.net/2008/09/29/beragam-istilah-seputar-lebaran/comment-page-1/ – 112k )
Kupatan juga diartikan sebagai Simbol Kebesaran Hati.
Tradisi kupatan penuh makna filosofis. Setidaknya ada tiga pemahaman arti yang berkembang di masyarakat soal makanan berbahan baku beras dibungkus anyaman janur tersebut. Semua makna itu menuju kepada sebuah peringatan ibadah yang berhubungan dengan masyarakat. Termasuk sebuah bentuk zikir umat Islam Jawa kepada Tuhan.
Menurut Dr Maryaeni, Kajur Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (UM), yang paling klasik adalah ketupat bermakna permintaan maaf. Kupat akronim dari kulo lepat (saya salah). Orang Jawa menganggap sempurna puasa dan lebarannya jika sudah kupatan, yakni mengakui kesalahan yang telah diperbuat sebelumnya. Lalu meminta maaf kepada orang yang pernah disalahi. Caranya cukup halus, yakni dengan menghantarkan kupat. Dari cara itu, ketupat sebagai simbol kebesaran hati.
Kata kupat yang berarti kesalahan diperkuat oleh joke-joke atau parikan. Maryaeni memberi contoh “kupat jangane santen, menawi lepat nyuwun pangapunten (ketupat sayurnya santan, jika saya salah mohon dimaafkan),”. Ada juga “Kupat kintir segara, menawi lepat nyuwun ngapura (ketupat hanyut di lautan, jika ada kesalahan mohon dimaafkan),” imbuh Maryaeni.
Makna kedua yang juga berkembang di masyarakat adalah, ketupat atau kupat berasal dari bahasa asli tlupat. Lagi-lagi, tlupat adalah akronim (kependekan dari) telu dan papat. Di zaman Sunan Kalijaga, dimaknai rukun Islam ketiga (puasa) dan rukun Islam keempat (zakat). Kedua rukun Islam itu tidak boleh dipisah. Setelah puasa, wajib berzakat.
Bungkus janur punya arti simbolis, yakni janur itu singkatan dari ” jan jane nur ” (sesungguhnya nur/cahaya ). Jadi, ketupat adalah media pengingat: Sudahkah Anda membayar zakat? Jika melaksanakan zakat dan puasa dengan benar maka akan mendapat nur (cahaya, hidayah) Allah.
Sementara, makna ketiga berdasarkan Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI. Jakarta yang dikeluarkan Depdikbud, kupat bermakna ”laku papat” (empat tindakan). Budaya menyediakan hindangan ketupat pada tanggal satu syawal terkandung pesan agar seseorang melakukan tindakan yang empat tersebut, yaitu: lebaran, luberan, leburan dan laburan.
Lebaran, dari kata lebar yang berarti selesai. Ini dimaksudkan bahwa satu syawal adalah tanda selesainya menjalani puasa. Luberan, terkandung arti melimpah. Ibarat air dalam tempayan, isinya melimpah sehingga tumpah ke bawah. Ini simbol yang memberikan pesan untuk memberikan sebagian hartanya kepada fakir miskin, yaitu sadaqah dengan ikhlas seperti tumpahnya/lubernya air dari tempayan tersebut. Hal ini dapat dilihat dalam tradisi Islam, yaitu memberikan sadaqah atau zakat fitrah pada satu syawal.
Leburan, seiring dengan pengertian ngaku ”lepat”, yaitu saling mengaku berasal dan saling meminta maaf. Lalu Laburan, labur (kapur) adalah bahan untuk memutihkan dinding. Dalam hal ini sebagai simbol yang memberikan pesan untuk senantiasa menjaga kebersihan diri lahir dan batin. Setelah selesai menjalani puasa, menunaikan zakat dan sedekah, serta meminta maaf kepada Tuhan dan masyarakat. (ariksmile.multiply.com/journal/item/20 – 26k. ariksmile – [KISAH] Makna Kupatan)
Masyarakat
Masyarakat adalah kumpulan sekian banyak individu, kecil atau besar yang terikat oleh satuan, adapt, ritus atau hokum khas, dan hidup bersama. Demikian satu dari sekian banyak definisinya. Ada beberapa kata yang digunakan dalam al Qur’an untuk menunjukkan kepada masyarakat atau kumpulan manusia. Antara lain qawm, ummah, syu’ub, dan qobail.
Menurut August Comte masyarakat merupakan kelompok-kelompok makhluk hidup dengan relitas-realitas baru yang berkembang menurut hokum-hukumnya sendiri dan berkembang menurut pola perkembangan yang tersendiri.
Menurut Ralph Linton, masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang telah hidup dan berkerja sama cukup lam sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan social dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas.(Drs. H. Ishomuddin. MS.1997.54&59)
Masyarakat dalam pandangan islam merupakan alat atau sarana untuk melaksanakan ajaran-ajaran islam yang menyangkut kehidupan bersama.(Drs. Kaelany.1992.125)
3. Rumusan Masalah
Untuk merumuskan suatu masalah dalam penelitian, perlu adanya sistematika analitik untuk mencapai sasaran yang menjadi objek kajian, sehingga pembahasan akan lebih terarah pada pokok masalah. Hal ini dimaksudkan agar terhindar dari pokok masalah dengan pembahasan yang tidak ada relevansinya. Adapun perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Fokus Masalah
Bagaimana pengaruh tradisi kupatan terhadap sikap keagamaan masyarakat dukuh klumosari RT 04/05
2. Sub Fokus Masalah
1. bagaimana asal mula munculnya tradisi kupatan di masyarakat?
2. seberapa besar pengaruh tradisi kupatan terhadap sikap keagamaan masyarakat dukuh klumosari RT 04/05?
3. bagaimana bentuk-bentuk sikap keagamaan masyarakat di dukuh Klumosari RT 04/05?

3. Tujuan Penelitian
Secara substansial tujuan dari penelitian adalah menyelesaiakan masalah-masalah yang telah dirumuskan sebelumnya (STAIN, 2002: 10). Maka dari perumusan itulah akan terdapat sesuatu yang menjadi rumusan dari hasil sebuah penelitian. Secara umum, karena objek penelitian adalah tentang, maka yang menjadi tujuan adalah untuk mengetahui dan memahami gagasan tersebut, sehingga menghasilkan diskripsi dari berbagai rumusan masalah yang diangkat.
Dalam hal ini tujuan penelitian akan diarahkan pada ke-sinkronan antara tujuan dengan upaya pemecahan problematika yang telah dirumuskan. Yang dimaksudkan untuk menghindari penyimpangan dalam menciptakan problem solving yang telah disistematiskan dengan tujuan penelitian (STAIN, 2002: 10), maka tujuan penelitian ini adalah:
a. Guna mengetahui apa pengaruh tradisi kupatan terhadap sikap keagamaan masayarakat dukuh Klumosari Rt 04/05.
b. Menjelaskan asal mula tradisi kupatan.
c. Mendiskripsikan pandangan masyarakat terhadap tradisi kupatan di dukuh Klumosari.
d. Menjelaskan bentuk-bentuk sikap keagamaan masyarakat di dukuh Klumosari.

4. Manfaat Penelitian
Dalam penelitian ini diharapkan dapat membawa manfaat baik kepada peneliti, pihak yang terlibat dalam penelitian, dan masyarakat pada umumnya. Adapun manfaat penelitian ini sebagai berikut:
1. Bagi Peneliti
1. Untuk menambah wawasan tentang tradisi-tradisi yang ada di Indonesia.
2. Menambah pengetahuan yang lebih tentang tradisi kupatan.
3. Dapat menjadi modal berharga untuk melakukan penelitian-penelitian selanjutnya.
4. dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan
2. Bagi Masyarakat Dukuh Klumosari RT 04/05
1. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih tentang tradisi kupatan.
2. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi terhadap masyarakat tentang tradisi yang biasa mereka lakukan.
3. Dari hasil penelitaian ini diharapkan dapat membuka wacana baru bagi masyarakat untuk lebih bisa memahami tradisi yang mereka lakukan.
4. Dari hasil penelitian ini diharapkan masyarakat lebih bisa terinspirasi untuk melakukan hal-hal yang dapat bermanfaat bagi kepentingan masyarakat itu sendiri dan yang lain.

5. Kajian Pustaka
Dalam kajian pustaka ini saya mencoba mengambil dari beberapa penelitian yang telah di lakukan sebelumnya. Walaupun dalam penelitian sebelumnya, judulnya tidak begitu sesuai dengan judul yang akan saya teliti, tetapi isi dari penelitian sebelumnya tidak jauh beda dengan penelitian yang akan saya lakukan.
Judul penelitian yang saya ambil adalah dari skripsi yang di buat oleh Ririn Sulistyani(pendidikan bahasa daerah, FBS) tahun 2000, yaitu “Kajian Foklor Upacara kupatan Jalasutra Di Dusun Jalasutra Desa Sri Mulyo Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta”. Walaupun data yang didapat tidak begitu banyak, tetapi sudah dapat mewakili dari penelitian yang akan saya lakukan. Penelitian yang akan saya lakukan ini akan berbeda dengan penelitian-penelitian yang sudah ada sebelumnya, karena pokok bahasan yang saya ambil berbeda dengan pokok bahasan penelitian sebelumnya. Sehingga ini termasuk penelitian baru jika dikaji menurut rumusan masalahnya.

6. Landasan Teori
a. Pengertian kupatan
Kupat itu kan dari bahasa jawa, dalam tata bahasa jawa ada yang namanya jarwo dosok, yaitu penggabungan suku kata dari beberapa kata yang menyimbulkan makna yang dikandung oleh sesuatu yang di jarwodosoki.
contoh ; kodok = teko trus ndodok = artinya datang langsung duduk jongkok, lihat saja tingkahnya kodok. dan banyak lagi contoh lainya.
Nah sekarang Kupat = cukupo sing papat = cukupkan empat hal, kira-kira begitu jika ada yang punya penafsiran lain ya gak apa-apa. Di share saja disini.
Yaitu Nah 4 hal yang terkandung didalam kupat tersebut apa saja ?
1. Lebaran
2. Leburan
3. Laburan
4. Luberan
Lebaran, sebenarnya sudah terlalu banyak yang membahas, yaitu kemenangan bagi umat muslim setelah berperang satu bulan penuh melawan hawa nafsu dan menjalankan kewajiban di Bulan Romadhon. Setelah selesai (lebar) puasa kita mendapat hadiah berupa idul fitri, yaitu kembali bersih.
Leburan, berasal dari kata lebur, yaitu segala dosa yang kita perbuat antara sesama ( orang tua, saudara, sahabat, dan semua yang pernah kita dzalimi) di lebur atau saling maaf-memaafkan pada bulan fitri.
Laburan, berasal dari kata labur (dikapur), biasanya orang me- labur tembok atau rumah dengan kapur yang warnanya putih. Tat kala pada proses leburan masih ada salah satu atau dua orang yang pernah kita dzalimi maupun mendzalimi kita belum sempat memaafkan atau di maafkan, hendaknya kita labur/dicat/dikapur dengan warna putih. artinya ya sebisa mungkin kita menghapus segala sesuatu iri dengki, salah dan dosa dengan niat ingsung memaafkan.
Nah, yang luberan ini yang agak unik, luberan berasal dari kata luber yang artinya kelebihan, bagi yang tua atau yang di tuakan biasanya memberikan angpao atau salam tempel kepada anak-anak. Atau dalam hal lain, jika ada yang berlebih hendaknya kita memberi kepada yang masih membutuhkan. nah pada makna yang keempat ini sangat lekat dengan tradisi mudik yang saat ini lagi ngetrend.
Nah kira2 begitu, yang dapat di ambil dari tradisi kupatan. Kalau dilihat dari niatan simbah-simbah kita dulu, sungguh sangat mulia tujuannya, yang mengemas tujuan pendidikan halal bihalal secara sederhana, yaitu melalui sebuah kupat yang terbuat dari beras yang dibungkus dengan janur. Mudah-mudahan nanti saya ketemu dengan makna janur pada kupat, dan anyaman pada kupat.( ariesubowo.wordpress.com/ – 57k)
Tradisi Syawalan atau yang biasa disebut Kupatan adalah sebuah tradisi perayaan yang dilaksanakan seminggu setelah Idul Fitri. Khusus pada Hari Raya Kupatan. Konon tradisi menyediakan makanan terbuat dari beras yang dibungkus dengan daun kelapa muda dan dianyam sedemikian rupa membentuk persegi belah ketupat itu, diperkirakan masuk ke tanah Jawa ketika agama Islam diterima masyarakat. Sunan Kalijaga adalah orang kali pertama yang memperkenalkan tradisi tersebut. Beliaulah yang membudayakan dua kali Bakda, yaitu Bakda Lebaran yang jatuh bertepatan 1 Syawal dan Bakda Kupat yang berlangsung satu minggu setelah Lebaran.
Budayawan Djawahir Muhammad mengungkapkan, tradisi Bakda Kupat yang menggunakan ketupat sebenarnya merupakan simbol bahwa seseorang yang membawa ketupat itu, manusia yang mengaku lepat (keliru-Red).
Anyaman ketupat yang rumit dan selang-seling itu merupakan pencerminan berbagai macam kesalahan manusia. Warna putih ketika ketupat dibelah menjadi dua mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah mohon ampun dari segala kesalahan.
Selain itu, juga mencerminkan kesempurnaan apabila dilihat dari bentuk ketupat. Semua itu dihubungkan dengan kemenangan umat muslim setelah sebulan berpuasa dan akhirnya menginjak hari yang fitri. Dengan demikian, secara eksplisit ketupat merupakan simbolisasi permintaan maaf dan silaturahmi. ”Secara visual, pengakuan lepat ditunjukkan dengan mengantar makanan dan masakan ke kerabat yang lebih tua atau tetangga,” (Djawahir Muhammad).
b. Sejarah tradisi Kupatan
Berawal dari Tradisi Wali Songo
Ketupat atau tradisi Jawa-nya kupatan bukan hanya sebuah tradisi Lebaran dengan menghidangkan ketupat, sejenis makanan atau beras yang dimasak dan dibungkus daun janur berbentuk prisma maupun segi empat. Sebab, kupatan memiliki makna dan filososi mendalam.
Dari sisi sejarah, tradisi kupatan berangkat dari upaya-upaya walisongo memasukkan ajaran Islam. Karena zaman dulu orang Jawa selalu menggunakan simbol-simbol tertentu, akhirnya para walisongo memanfaatkan cara tersebut. ”Tradisi kupatan akhirnya menggunakan simbol janur atau daun kelapa muda berwarna kuning”.
Dari sisi bahasa, kupat berarti mengaku lepat atau mengakui kesalahan. Bertepatan dengan momen Lebaran, kupat mengusung semangat saling memaafkan, semangat taubat pada Allah, dan sesama manusia. Dengan harapan, tidak akan lagi menodai dengan kesalahan di masa depan. ”Kupat dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari kafi. Yakni, kuffat yang berarti sudah cukup harapan”.
Dengan berpuasa satu bulan penuh di bulan Ramadan, lalu Lebaran 1 syawal, dan dilanjutkan dengan puasa sunnah enam hari syawal, maka orang-orang yang kuffat merasa cukup ibadahnya. Apalagi, berdasarkan hadis riwayat Imam Muslich bahwa ibadah tersebut sama dengan berpuasa satu tahun lamanya. ”Karena itulah, kuffat berarti orang-orang yang merasa cukup”.
Terlebih, ditambah lagi dengan tradisi silaturahim selama sepekan penuh pada kerabat dan masyarakat sekitar. Sehingga, tradisi kupatan benar-benar dirasa lengkap.
Sedang dari sisi penyimbolan, dipilihnya janur karena janur biasa digunakan masyarakat Jawa dalam suasana suka cita. Umumnya, dipasang saat ada pesta pernikahan atau momen menggembirakan lain. Janur dalam bahasa Arab berasal dari kata Jaa Nur atau telah datang cahaya. Sebuah harapan cahaya menuju rahmat Allah, sehingga terwujud negeri yang makmur dan penuh berkah.
Sedang isinya, dipilih beras baik-baik yang dimasak jadi satu sehingga membentuk gumpalan beras yang sangat kempel. Ini pun memiliki makna tersendiri, yakni makna kebersamaan dan kemakmuran. ”Harapan para Wali Songo dulu, tradisi kupatan ini bukan sebuah formalitas, tapi menjadi semangat kebersamaan umat”.
Selain itu, biasanya kupatan dimaknai dengan potongan miring sebagai simbol perempuan. Potongan kupat miring tersebut lazim disandingkan dengan lepet berbahan beras ketan dengan bentuk lonjong sebagai simbol laki-laki. ”Artinya, pasangan suami istri juga harus selalu hidup rukun dan bersanding”.
(fendi-tw.blogspot.com/2008/10/tradisi-kupatan.html – 53k).
c. makna simbolisasi kupat
Dilihat dari sudut lain ketupat dipilih sebagai simbol hari yang suci bagi umat islam ini,karena ketupat mempunyai sisi sebanyak empat. Kalau ditengok dari ajaran islam,rukun islam yang keempat adalah puasa. Setiap umat muslim diwajibkan berpuasa di bulan Ramadhan.
Daun yang dipergunakan sebagai pembungkus adalah daun kelapa. Masyarakat umum juga sudah banyak mengetahui bahwa pohon kelapa merupakan pohon yang bermanfaat atau berguna dari akar sampai daun.
Jadi,dapat dikatakan bahwa ketupat mempunyai pesan atau makna ” semoga dalam menjalankan ibadah puasa dari awal sampai akhir berguna dan kembali menjadi putih serta suci seperti isinya “.
Orang jawa memaknai kata ‘ kupat ‘ sebagai sebuah kiasan,dengan mengambil suku kata. Ku merupakan kependekan dari Kulo artinya saya. Sedangkan pat kependekan dari kata lepat yang berarti kesalahan. Jadi maknanya secara tersirat dimaknai sebagai terlepas atau terbebasnya orang dari kesalahan. Sehingga melalui ritual makan ketupat di hari bakdo kupat.masyarakat jawa secara sadar saling memaafkan,saling membebaskan kesalahan dan melebur dosa dengan simbolisasi kupat.(mkipabawana.blogspot.com/2008/09/makna-kupatan-di-hari-fitri.html – 100k)
7. Metode Penelitian
metode ialah suatu kerangka kerja untuk melakukan suatu tindakan, atau suatau kerangka berfikir menyusun gagasan yang beraturan, berarah dan berkonteks, yang paut (relevant) dengan maksud dan tujuan. Secara ringkas, metode adalah suatu sistem berbuat. Karena berupa sistem, maka metode merupakan seperangkat unsur-unsur tang membentuk suatu kesatuan.
Unsur-unsur metode adalah wawasan intelektual, konsep, cara penghampiran (approach) persoalan, dan rancang bangun alas data (database). Wawasan intelektual berkenaan dengan nalar. Tanggap rasa, cerapan, pengalaman dan ilmu pengetahuan. Konsep adalah hasil proses intelektual berupa kejadian imajinatif untuk memperluas dan memperkaya cerapan, sehingga dapat dibentuk gagasan baru yang dapat menganalisis persoalan secara cermat. Cara berkenaan dengan pola pikir. Alas data adalah cerminan citra tentang ”kenyataan” yang dimiliki seorang peneliti, atau cerapa peneliti tenytang ”kenyataan”. Alas data dirancang bangun sedemikian rupa gara semua data yang telah terkumpulkan dapat dialokasikan kepada kedudukan atau fungsinya yang sepadan menurut maksud dan tujuan penelitian.
Penelitian (research) ialah suatu kegiatan mengkaji (study) secara teliti dan teratur dalam suatu bidang ilmu menurut kaidah tertentu. Kaidah yang dianut ialah metode. Mengaji ialah suatu usaha memperoleh dan menambah pengetahuan. Jadi, meniliti dilakukan untuk memperkaya dan meningkatkan kefahaman tentang sesuatu.( soil.faperta.ugm.ac.id/tj/1991/1992%20meto.pdf)
• Pendekatan dan jenis penelitian
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif ini diambil karena dalam penelitian ini sasaran atau obyek penelitian dibatasi agar data-data yang diambil dapat digali sebanyak mungkin serta agar dalam penelitian ini tidak dimungkinka adanya pelebaran obyek penelitian. Penelitia dilakukan langsung dilapangan, rumusan masalah juga ditemukan dilapangan, juga memungkinkan berubah-ubah sesuai data yang ada sehingga akan ditemikan sebuah teori baru di tengah lapangan. Penelitian ini bertolak dari cara berfikir induktif, kemudian berfikir secara deduktif. Penelitian ini menganggap data adalah inspirasi teori, kemudian bergerak membentuk teori yang menerangkan data.
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan survey. Penelitian deskriptif dapat diartikan sebagai proses pemecahan masalah yang diselidiki dengan melukiskan keadaaan subyek dan obyek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau bagaiman adanya.
Pelaksanaan metode penelitian deskriptif tidak terbatas sampai pada pengumpulan dan penyusunan data. Tetapi meliputi analisis dan interpretasi tentang data tersebut, selain itu semua yang dikumpulkan memungkinkan menjadi kunci terhadap apa yang diteliti.
• Lokasi penelitian
Penelitian dilakukan di kota jepara, tepatnya tempat atau lokasi penelitian akan dilakukan di kecamatan Bangsri, di desa Banjaragung, di dukuh Klumosari RT 04/ RW 05. semua kegiatan penelitian, mulai dari pengurusan surat perizinan sampai pengumpulan data yang diperlukan, dilaksanakan lokasi atau tempat penelitian.
• Jenis Data, dan Sumber Data
Jenis data yang dapat digunakan adalah :
Data kualitatif
Yaitu data yang dipergunakan untuk permintaan informasi yang bersifat menerangkan dalam bentuk kalimat atau uraian.( Burian Bugis, 2004)
Kenapa kami menggunakan data kualitatif, karena penelitian ini dirasa lebih cocok jika menggunakan data kualitatif jika dibandingkan dengan data kuantitaf.
Data primer
Yaitu data yang diperoleh langsung dari sumber data pertama dilokasi penelitian atau objek penelitian.
Data cross section/a kerat lintang
Yaitu data yang dikumpulkan pada waktu dan tempat tertentu saja. Karena penelitian ini tidak menggunakan tahapan-tahapan waktu.
Sumber data
Sumber data yang dapat digunakan adalah:
Adapun sumber data dalam penelitian kali ini adalah data primer yaitu masyarakat dukuh Klumosari Rt 04/05.
Yang kedua adalah dari peristiwa yang terjadi, yaitu peristiwa tradisi kupatan itu sendiri. Dan juga dapat ditambah dengan sumber-sumber pendukung (data sekunder) yang mungkin ada pada lokasi atau obyek penelitian, bisa berupa dokumen-dokumen, ataupun masyarakat sekitar dukuh klumosari RT 04/ RW 05 ataupun dari sumber yang lain yang berhubungan dengan penelitian atau yang mendukung penelitian.
• Tehnik pengumpulan data
Dalam penelitian ini sudah barang tentu memerlukan adanya data-data, yaitu sebagai bahan yang akan distudi. Dan untuk memperolehnya perlu adanya metode sebagai bahan pendekatan. Pada dasarnya penelitian ini dalam pemerolehan datanya harus disesuaikan dengan permasalahan dan situasi serta kondisi yang ada. Sehingga data yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan kevaliditasannnya.
Oleh karena itu berdasarkan sifat penelitian, maka metode pengumpulan data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah:
a. Metode wawancara ( interview)
Metode wawancara, adalah suatu cara yang digunakan oleh peneliti atau dalam wawancara face to face antara peneliti dengan responden untuk mendapatkan informasi secara lisan dengan tujuan memperoleh data yang dapat menjelaskan ataupun menjawab suatu permasalahan penelitian.
Menurut jenisnya, wawancara yang digunakan adalah memakai pembagian jenis wawancaraseperti yang diungkapkan Sanapiah Faisol (1990:63) yakni:
a. Wawancara tak berstruktur, pada jenis wawancara ini akan diajukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih luas dan leluasa, tanpa terikat oleh sususnan pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Walaupun demikian sudah barang tentu sudah dipersiapkan ”cadangan masslah” yang perlu ditanyakan pada subyek atau informan. Dan biasanya muncul secara spontan sesuai dengan perkembangan situasi wawancara itu sendiri. Dari wawancara tak berstruktur ini diharapkan terjadi komunikasi yang berlangsung secara luwes, arahnya bisa lebih terbuka sehingga dapat diperoleh informasi yang lebih kaya dan pembicaraan tidak terlampau ”terpaku” dan menjenuhkan.
b. Wawancara yang dilakukan secara terang-terangan. Metode ini dipergunakan dengan harapan dapat memperoleh informasi secara leluasa dengan baik dan benar dari lawan bicara, karena berangkat dari keterbukaan dan terus terang bahwa diinginkan beberapa informasi tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan penelitian yang sedang dilakukan. Maka informan akan memberikan informasi sesuai dengan apa yang diprlukan, tanpa adanya unsur kecurigaan sedikitpun.
c. Wawancara yang menempatkan informan sebagai sejawat. Dalam sebuah penelitian hasiltemuan tergantung pada data/ informsi yang diperoleh. Karenanya andil pemberi informasi (informan) memegang posisi kunci. Oleh karena itu dalam penelitian ini perlu menempatkan informan sebagai co-researcher (pasangan atau sejawat peneliti itu sediri). Maka sedari awal peneliti perlu berterus terang memaparkan maksud dan utjuan penelitiannya. Juga mengemukakan apa yang menjadi harapan peneliti kepada informan-informannya. Dengan demikian diharapkan permasalahan atau topik penelitian menjadi isue milik bersama ( peneliti dan informan).
Jadi, jelas bahwa metode ini digunakan untuk sejumlah maksud-maksud tertentu dengan menggali apa saja yang diketahui dan dialami. Serta apa saja yang tersembunyi jauh didalam diri subyek penelitian. Dan apa yang ditanyakan kepada informan bisa mencakup hal-hal yang bersifat lintas waktu yang brkaitan dengan masa lampau – masa sekarang dan masa yang akan datang.
b. Metode observasi
Metode observasi, yaitu salah satu metode yang digunakan dalam penelitian. Observasi ialah studi yang disengaja dan sistematis tentang fenomena sosial dan gejala –gejala alam dengan jalan pengamatan dan pencatatan. Bisa juga diartikan merupakan sebuah akitvitas penelitian yang dilakukan secara sistematis dalam rangka mengumpulkan data yang berkaitan dengan masalah penelitian melalui proses pengamatan langsung di lapangan.
Metode observasi yang dapat digunakan dalam penelitian ini diantaranya :
Metode observasi terlibat ( partisipatif ) yaitu observasi yang dilakukan pengamat dengan cara melibatkan diri kedalam lingkungan obyek pengamatan. Penggunaan observasi atau pengamatan terlibat sebagai metode pengumpulan data sesuai sifat penelitian ini. Sebab pada penelitian kualitatif menuntut peneliti untuk menjadi instrumen atau alat penelitian. Maksudnya, peneliti harus mencari data sendiri dengancara terjun langsung kelokasi penelitian untuk memperoleh data yang diperlukan sesuai dengan permasalahan yang diajukan.
Denagn pengamatan terlibat ini, peneliti seolah-olah menjadi anggota yang sering bergaul dalam setiap aktifitas organisasi. Sehingga dengan metode ini segala macam informasi termasuk rahasia sekalipn, dapat diperoleh dengan mudah.
Dengan sistem kerja yang akan dilakukan pada metode observasi ini sesuai dengan apa yang dikemukakan Sanapiah Faisol (1990:78-79) yang dipilah menurut jenisnya sebagai berikut:
1) metode partisipatif, yaitu observasi yang sekaligus melibatkan diri selaku ’orang dalam’pada suatu situasi sosial. Hal ini dimaksudkan agar peneliti tidak hanya berdiri sebagai orang luar dalam situasi sosial yang tengah diobservasi tetapi juga sekaligus melibatkan diri selaku orang dalam. Karena dalam kondisi saat ini yang menjdi kepentingan peneliti adalah pengumpulan data atau informasi dengan mudah dan leluasa. Untuk observasi partisipatif ini pada kondisi awal disuatu situasi sosial, peneliti lebih menonjolkan sebagai peneliti atau pengamat, meskipun kadang-kadang ikut serta seadanya sebagai pelaku kegiatan sebagaimana selayaknya orang dalam. Dan pada kondisi dan situasi selanjutnya tergantung pada kebutuhan dan perkembangandari pad aobservasi yang sedang dialakukan. Selain itu tingkay kedalaman pada observasi partisipatif terasebut biasanya tergangtung pada kesempatan atau waktu peneliti di lapangan dan karakteristik situasi sosial yang diteliti.
2) Observasi terus terang dan tersamar. Pada situasi dan kondsi tertentu perlu menggunakan observasi secara terang-terangan, dengan meksud segala data / informasi yang diinginkan dengan terlebih dahulu mengatakan maksud dan tujuan diadakannya observasi, mak informasi yang akan diperolehyapun dengan mudah akan didapatkan. Dan pada kondisi ini pula perlu juga melakukan observasi secara tersamar sebab adalah tidak realistik untuk serba terus terang mengamat suatu situasi.
3) Observasi tidak berstruktur. Observasi ini sangatlah mungkin dilakukan sebab, apa yang diperlukan dan relevan di observasi lazimnya tidak dapat dispesifikkan sebelumnya. Fokus observasi penelitian kualitatif biasanya berkembang sewaktu kegiatan penelitian berlangsung. Jdi tidak perlu menggunakan panduan yang telah disiapkan sebelumnya.
Sumber-sumber informasi non manusia, seperti dokumen dan rekaman/catatan ( record ) dipandang perlu karena cukup bermanfaat. Menurut Linkoln dan guba, selain ia sudah tersedia sehingga relatif pengeluaran biaya untuk memperolehnya, juga merupakan sumber yang stabil dan barang kali juga akurat sebagai cerminan situasi dan kondisi yang sebenarnya. Untuk informasi konteks, ia dapat merupakan sumber yang cukup kaya. Ia merupakan data yang legal dapat diterima dan tidak dapat memberikan reaksi apapun pada peneliti sebagaimana halnya sumber data yang berupa manusia. Pengumpulan data dari sumber-sumber non manusia ini digunakan terutama untuk kegunaan tahap eksplorasi menyeluruh.
Metode observasi sistematis (berstruktur), pada pengamatan berstruktur, si peneiti sudah mengetahui aspek apa saja dari aktivitas yang diamati, yang relevan dengan masalah dan tujuan penelitian.
Ciri-ciri observasi sistematis diantaranya:
 Materi observasi lebih terbatas, sesuai dengan tujuan penelitian
 Mempunyai struktur atau kerangka yang jelas, yang memuat faktor-fktor yang telah diatur kategorinya terlebih dahulu
 Cara pencatatan bisa menggunakan tape recorder, camera, video shooting, dan lain lain.
Inilah beberapa tehnik pengumpulan data yang bisa digunakan dalam penelitian ini. Dapat dijadikan pilihan dalam melakukan penelitian. Mana metode yang memang sesuai untuk digunakan dalam penelitian ini, karena metode yang digunakan juga harus bisa menyesuaikan situasi dan kondisi si lokasi penelitian. Karena untuk mendapat data yang tepat dan sesuai dengan data yang dibutuhkan, yaitu sesuai dengan tujuan penelitian.
c. Metode dokumentasi
Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger dan sebagainya (Sutrisno, 1989: 72).
Metode ini digunakan untuk memperoleh data sebagai pelengkap data yang diperoleh dari hasil wawancara/angket mengenai pengaruh tradisi kupatan terhadap sikap keagamaan masyarakat dukuh klumosari Rt 04/05.

• Analisis data
Data ialah informasi tentang sesuatu. Data yang dikumpulkan berapapun anyaknya, bukanlah merupakan tujuan dari penelitian. Akan tetapi data dapatmerupakan sarana untuk memudahkan penafsiran dan memahami maknanya. Jadipengambilan (pengumpulan) data merupakan langkah yang penting dalam penelitian.
Sedangkan analisis data ialah proses pengklasifikasian, pengorganisasian, penyusunan data-data yang telah dikumpulkan. Menurut Patton, 1980 (dalam lexy J moleong. 2002:103) menjelaskan bahwa analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya kedalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar. Sedangkan menurut Taylor, analisis data adalah sebagai proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis(ide) seperti yang disarankan dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan dan tema pada hipotesis.
Proses analisis data dimulai dengan menelah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu wawancara, pengamatan, yang sudah ditulis dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar foto, dan sebagainya. Data tersebut banyak sekali, setelah dibaca, dipelajari, dan ditelah maka langkah berikutnya adalah mengadakan reduksi data yang dilakukan dengan jalan membuat abstraksi. Abstraksi merupakan usaha membuat rangkuman yang inti, proses dan pernyataan-pernyataan yang perlu dijaga sehingga tetap berada di dalamnya. Langkah selanjutnya adalah menyusunya dalam satuan-satuan. Satuan-satuan itu kemudian dikategorisasikan pada langkah berikutnya. Kategori-kategori itu dilakukan sambil membuat koding. Tahap akhir dari analisis data ialah mengadakan pemeriksaan keabsahan data.. setelah selesai tahap ini, mulailah kini tahap penafsiran data dalam mengolah hasil sementara menjadi teori substantif dengan menggunakan beberapa metode tertentu.
Ada beberapa teknik statistik yang dapat digunakan untuk menganalisis data. Tujuan dari analisis data adalah untuk mendapatkan informasi yang relevan yang terkandung di dalam data tersebut, dan menggunakan hasil analisis tersebut untuk memecahkan suatu masalah. Permasalahan yang akan dipecahkan biasanya dinyatakan dalam bentuk satu atau lebih hipotesis nol. Sampel data yang dikumpulkan kemudian digunakan untuk menguji menolak atau tidak menolak hipotesis nol secara statistik.
Penyajian data (display data) dapat dilakukan sesuai dengan kesesuaian model atau jenis penelitian yang akan dilakukan. Sesuai dengan jenis penelitian dan rumusan masalah dalam penelitian metode yang digunakan diantaranya dengan metode analisis deskriptif.
Analisis deskriptif ini mempunyai tujuan untuk memberikan gambaran atau deskripsi suatu populasi. Misalnya populasi dilihat dari nilai rata-ratanya (mean, median, modus), standar deviasi, variansi, nilai minimum dan maksimum, kurtosis dan skewness (kemencengan distribusi). Data yang dianalisis dapat berupa data kualitatif atau data kuantitatif. Cara penyajiannya dapat dilengkapi dengan menggunakan tabel, grafik dan diagram (garis, batang, lingkaran maupun yang lain baik dengan 2 dimensi maupun 3 dimensi).
Selain dengan metode penyajian data diatas dapat juga menggunakan penyajian yang lain sesuai variabel yang akan dihadapi. Adapun variabel adalah konsep-konsep yang mengandung lebih dari satu nilai besaran atau atribut. Sehingga dalam penelitian ini akan dapat di perkaya dengan teori yang sudah ada, ataupun dari penelitian ini bisa ditemukan teori yang baru untuk diterapkan dalam penelitian.
8. Sistematika penulisan / penyusunan
Sistematika pembahasan ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara sistematis tentang bahasan dalam penelitian ini. Secara keseluruhan, penelitian ini penulis bagi menjadi 4 bab, yaitu sebagai berikut:
Bab Pertama: Pendahuluan, bab ini meliputi latar belakang masalah, penegasan istilah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, kajian pustaka, metode penelitian, analisis data dan sistematika penulisan.
Bab Kedua: Kerangka teoritik, bab ini meliputi bahasan pengaruh kupatan dan sikap keagamaan
Bab Ketiga: gambaran umum tentang pengaruh kupatan terhadap sikap keagamaan masyarakat dukuh klumosari RT 04/05. dan penjelasan dari hasil penelitian tentang pengaruh kupatan terhadap sikap keagamaan masyarakat dukuh klumosari RT 04/05.
Bab Keempat: Penutup, dalam bab ini mencakup pembahasan tentang kesimpulan, saran-saran, kata penutup serta dilengkapi dengan daftar pustaka.
9. jadwal penelitian
jadwal penelitian adalah rumusan waktu kegiatan penelitian. untuk mengetaui jadwal penelitian terlebih dahulu harus mengetahui kapan waktu pelaksanaan acara tersebut, sehingga dapat melakukan persiapan dalam penjadwalan penelitian. tetapi sebelum itu memang harus dilakukan persiapan (penjadwalan) terlebih dahulu, sehingga saat waktu acara sudah diketahui bisa dengan segera melakukan penelitian tanpa harus menyusun terlebih dahulu jadwal penelitiannya. Jadwal penelitian harus disususn secara sistematis, sehingga disaat penelitian berlangsung sudah mempunyai tahapan waktu dalam penelitian. Jadwal bisa sewaktu-waktu berubah sesuai dengan waktu pelaksanaan acara tersebut.
jadwal waktu penelitian ini diharapkan mengikuti waktu acara itu dilaksanakan. Sehingga memudahkan bagi peneliti untuk melakukaan penelitian. Penelitian akan dilakukan mulai bulan agustus sampai bulan oktober 2009.
Jadwal penelitian
Rencana kegiatan penelitian Agustus
tanggal September
Tanggal Oktober
tanggal
1. persiapan kebutuhan penelitian 1 – 5
2.permintaan surat ijin penelitian 6 – 10
3. menentukan subyek-subyek (sampel) penelitian 11 – 13
4. pencarian data 15 - 30
5. acara tradisi kupatan 27
6. pengumpulan data 3 – 7
7. pengklasifikasian/ pengelompokan data 8 – 13
8. penyusunan data 15 – 20
Pengeditan dan pembukuan data hasil penelitian 21 – 26
10. laporan hasil penelitian 28 – 31
10. estimasi biaya penelitian
Biaya dalam penelitian kali ini menghabiskan lebih kurang dana seperti dalam rincian di bawah ini:
• transportasi
dengan rincian :
65.000.00 X 2 = 130.000.00
5.000.00 X 50 X 2 = 500.000.00 +
630.000.00
• dokumentasi
dengan rincian :
perekam suara = kaset = 300.000.00
kamera = 200.000.00 +
500.000.00
• konsumsi
dengan rincian :
16.000.00/ hari X 62 = 992.000.00
Pembulatan =1.000.000.00
• pengetikan dan percetakan
dengan rincian :
ketik = 100.000.00
cetak = 150.000.00 +
250.000.00
• biaya tidak terduga / lain-lain
500.000.00
Total biaya = 3.330.000.00

Daftar pustaka
Moloeng, Lexy J. Metodologi penelitian kuantitatif. Bandung. Remadja Karya. 1989
Bugis, Burian. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Surabaya. Prenada Media. 2004
Ishomuddin. Sosiologi perspektif islam. Malang. Umm Press. 1997
Kaelani. Islam dan aspek-aspek keselamatan. Jakarta. Bumi aksara.1992
Jalaluddin. Psiologi agama edisi revisi. Jakarta. PT Raja Grafindo persada.2001
Faisal, Sanapiah, Drs. 1981. Dasar-dasar dan Teknik Menyusun Angket, Surabaya: Usaha Nasional
http://www.uny.ac.id/akademik/sharefile/files/2310200803456_SURYO.odt
fendi-tw.blogspot.com/2008/10/tradisi-kupatan.html – 53k
mkipabawana.blogspot.com/2008/09/makna-kupatan-di-hari-fitri.html – 100k
ariesubowo.wordpress.com/ – 57k
soil.faperta.ugm.ac.id/tj/1991/1992%20meto.pdf
http://www.geocities.com/raihan_rosse/Metode penelitian.htm – 76k
ardhana12.wordpress.com/2008/02/08/teknik-analisis-data-dalam-penelitian
betha.wordpress.com/2007/09/25/analisis-data
http://www.damandiri.or.id/file/naniktunpabsbab4.pdf
http://www.damandiri.or.id/file/dwiharyonoipbbab4.pdf
organisasi.org/klasifikasi_jenis_dan_macam_data_pembagian_data_dalam_ilmu_eksak_sains_statistik_statistika – 14k
http://www.rumahtulisan.com/15/10/2008/keluarga/kupatan-naik-gunung-sambil-bermaafan.html – 47k
http://www.pataka.net/2008/09/29/beragam-istilah-seputar-lebaran/comment-page-1/ 112k
ariksmile.multiply.com/journal/item/20 – 26k

Published in: on 26 Februari 2009 at 10:49 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: http://alkalimany.wordpress.com/2009/02/26/contoh-proposal/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: